PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010

MENTERI KESENATAN
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010

TENTANG

IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang: a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan perlu mengatur Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan;

  1. bahwa dalam rangka menyelaraskan kewenangan bidan dengan tugas pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang merata, perlu merevisi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor H K.02.02/Menkes/149/1/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan;
  2. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan kembali Peraturan       Menteri             Kesehatan tentang Izin          dan
    Penyelenggaraan Praktik Bidan;

Mengingat:                    1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik

Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambaran Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

  1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
  2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637);
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
  5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/ XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 439/Menkes/Per/ VI/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang
    Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan;
  6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369/Menkes/SK/ 111/2007 tentang Standar Profesi Bidan;
  7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 938/Menkes/SK/ VI11/2007 tentang Standar Asuhan Kebidanan;
  8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 161/Menkes/Per/1/2010 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

1 Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan.

2 Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif, yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat.

  1. Surat Tanda Registrasi, selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah kepada tenaga kesehatan yang diregistrasi setelah memiliki sertifikat kompetensi.
  2. Surat Izin Kerja Bidan, selanjutnya disingkat SIKB adalah bukti tertulis yang diberikan kepada Bidan yang sudah memenuhi persyaratan untuk bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.
  3. Surat Izin Praktik Bidan, selanjutnya disingkat SIPB adalah bukti tertulis yang diberikan kepada Bidan yang sudah memenuhi persyaratan untuk menjalankan praktik bidan mandiri.
  4. Standar adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi yang meliputi standar pelayanan, standar profesi, dan standar operasional prosedur.
  5. Praktik mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan.
  6. 8.   Organisasi profesi adalah Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

BAB II
PERIZINAN

Pasal 2

(1)  Bidan dapat menjalankan praktik mandiri dan/atau bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.

(2)  Bidan yang menjalankan praktik mandiri harus berpendidikan minimal Diploma III (D III) Kebidanan.

Pasal 3

(1)    Setiap bidan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan wajib memiliki SIKB.

(2)    Setiap bidan yang menjalankan praktik mandiri wajib memiliki SIPB.

(3)    SIKB atau SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku untuk 1 (satu) tempat.

Pasal 4

(1) Untuk memperoleh SIKB/SIPB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Bidan harus mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dengan melampirkan:

  1. fotocopy STR yang masih berlaku dan dilegalisasi;
  2. surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki Surat Izin Praktik;
    1. surat pernyataan memiliki tempat kerja di fasilitas pelayanan kesehatan atau tempat praktik;
    2. pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 cm sebanyak 3 (tiga) lembar;
    3. rekomendasi dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk; dan
    4. rekomendasi dari organisasi profesi.

(2) Kewajiban memiliki STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Apabila belum terbentuk Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI), Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP) dan/atau proses STR belum dapat dilaksanakan, maka Surat Izin Bidan ditetapkan berlaku sebagai STR.

(4) Contoh surat permohonan memperoleh SIKB/SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Formulir I terlampir.

(5) Contoh SIKB sebagaimana tercantum dalam Formulir II terlampir

(6) Contoh SIPB sebagaimana tercantum dalam Formulir III terlampir.

Pasal 5

(1)    SIKB/SIPB dikeluarkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota.

(2)    Dalam hal SIKB/SIPB dikeluarkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota maka persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf e tidak diperlukan.

 

(3) Permohonan SIKB/SIPB yang disetujui atau ditolak harus disampaikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota atau dinas kesehatan kabupaten/kota kepada pemohon dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal permohonan diterima.

Pasal 6

Bidan hanya dapat menjalankan praktik dan/atau kerja paling banyak di 1 (satu) tempat kerja dan 1 (satu) tempat praktik.

Pasal 7

(1) SIKB/SIPB berlaku selama STR masih berlaku dan dapat diperbaharui kembali jika habis masa berlakunya.

(2) Pembaharuan SIKB/SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota setempat dengan melampirkan :

  1. fotokopi SIKB/SIPB yang lama;
  2. fotokopi STR;
  3. surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki Surat Izin Praktik;
  4. pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 cm sebanyak 3 (tiga) lembar;
    1. rekomendasi dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk sesuai ketentuan Pasal 4 ayat (1) huruf e; dan
    2. rekomendasi dari organisasi profesi.

Pasal 8

SIKB/SIPB dinyatakan tidak berlaku karena:

  1. tempat kerja/praktik tidak sesuai lagi dengan SIKB/SIPB.
  2. masa berlakunya habis dan tidak diperpanjang.
  3. dicabut oleh pejabat yang berwenang memberikan izin.

BAB III
PENYELENGGARAAN PRAKTIK

Pasal 9

Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi:

  1. pelayanan kesehatan ibu;
  2. pelayanan kesehatan anak; dan
  3. pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.

 

Pasal 10

(1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui dan masa antara dua kehamilan.

(2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

  1. pelayanan konseling pada masa pra hamil;
  2. pelayanan antenatal pada kehamilan normal;
  3. pelayanan persalinan normal;
  4. pelayanan ibu nifas normal;
  5. pelayanan ibu menyusui; dan
  6. pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan.

(3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berwenang untuk:

  1. episiotomi;
  2. penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II;
  3. penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan;
  4. pemberian tablet Fe pada ibu hamil;
  5. pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas;
  6. fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu ibu eksklusif;
  7. pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum;
  8. penyuluhan dan konseling;
  9. bimbingan pada kelompok ibu hamil;
  10. pemberian surat keterangan kematian; dan
  11. pemberian surat keterangan cuti bersalin.

Pasal 11

(1)    Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b diberikan pada bayi baru lahir, bayi, anak balita, dan anak pra sekolah.

(2)    Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk:

  1. melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi, pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini, injeksi Vitamin K 1, perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0 — 28 hari), dan perawatan tali pusat;
  2. penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk;
  3. penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan;
  4. pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah;
  5. pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah;
  6. pemberian konseling dan penyuluhan;
  7. pemberian surat keterangan kelahiran; dan
  8. pemberian surat keterangan kematian.

Pasal 12

Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c, berwenang untuk:

  1. memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana; dan
  2. memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom.

Pasal 13

(1) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12, Bidan yang menjalankan program Pemerintah berwenang melakukan pelayanan kesehatan meliputi:

  1. pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit;
  2. asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis tertentu dilakukan di bawah supervisi dokter;
  3. penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan;
  4. melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan;
  5. pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak sekolah;
  6. melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas;
  7. melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya;
  8. pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi; dan
  9. pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah.

(2) Pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan antenatal terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan pelaksanaan deteksi dini, merujuk, dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) dan penyakit lainnya, serta pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) hanya dapat dilakukan oleh bidan yang dilatih untuk itu.

Pasal 14

(1) Bagi bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter, dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.

 

(2)    Daerah yang tidak memiliki dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah kecamatan atau kelurahan/desa yang ditetapkan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.

(3)    Dalam hal daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah terdapat dokter, kewenangan bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku.

Pasal 15

(1)    Pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota menugaskan bidan praktik mandiri tertentu untuk melaksanakan program Pemerintah.

(2)    Bidan praktik mandiri yang ditugaskan sebagai pelaksana program pemerintah berhak atas pelatihan dan pembinaan dari pemerintah daerah provi nsi/kabupaten/kota.

Pasal 16

(1)    Pada daerah yang belum memiliki dokter, Pemerintah dan pemerintah daerah harus menempatkan bidan dengan pendidikan minimal Diploma III Kebidanan.

(2)    Apabila tidak terdapat tenaga bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah dan pemerintah daerah dapat menempatkan bidan yang telah mengikuti pelatihan.

(3)    Pemerintah     daerah         provinsi/kabupaten/kota            bertanggung          jawab
menyelenggarakan pelatihan bagi bidan yang memberikan pelayanan di daerah yang tidak memiliki dokter.

Pasal 17

(1) Bidan dalam menjalankan praktik mandiri harus memenuhi persyaratan meliputi:

  1. memiliki tempat praktik, ruangan praktik dan peralatan untuk tindakan asuhan kebidanan, serta peralatan untuk menunjang pelayanan kesehatan bayi, anak balita dan prasekolah yang memenuhi persyaratan lingkungan sehat;
  2. menyediakan maksimal 2 (dua) tempat tidur untuk persalinan; dan
  3. memiliki sarana, peralatan dan obat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(2) Ketentuan persyaratan tempat praktik dan peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan ini.

Pasal 18

(1) Dalam melaksanakan praktik/kerja, bidan berkewajiban untuk:

  1. menghormati hak pasien;
  2. memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan;
  3. merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapat ditangani dengan tepat waktu;
  4. meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan;
  5. menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan;
  6. melakukan pencatatan asuhan kebidanan dan pelayanan lainnya secara sistematis;
  7. mematuhi standar ; dan
  8. melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan praktik kebidanan termasuk pelaporan kelahiran dan kematian.

(2) Bidan dalam menjalankan praktik/kerja senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya.

(3) Bidan dalam menjalankan praktik kebidanan harus membantu program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Pasal 19

Dalam melaksanakan praktik/kerja, bidan mempunyai hak:

  1. memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik/kerja sepanjang sesuai dengan standar;
  2. memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari pasien dan/atau keluarganya;
  3. melaksanakan tugas sesuai dengan kewenangan dan standar; dan
  4. menerima imbalan jasa profesi.

 

 

MENTERI KESEIIATAN
REPUBL1K INDONES4A

BAB IV
PENCATATAN DAN PELAPORAN

Pasal 20

(1)    Dalam melakukan tugasnya bidan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan pelayanan yang diberikan.

(2)    Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan ke Puskesmas wilayah tempat praktik.

(3)    Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk bidan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.

BAB V
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 21

(1)    Menteri, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melakukan pembinaan dan pengawasan dengan mengikutsertakan Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi, organisasi profesi dan asosiasi institusi pendidikan yang bersangkutan.

(2)    Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien dan melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

(3)    Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus melaksanakan pembinaan dan pengawasan penyelengaraan praktik bidan.

(4)    Dalam pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat pemetaan tenaga bidan praktik mandiri dan bidan di desa serta menetapkan dokter puskesmas terdekat untuk pelaksanaan tugas supervisi terhadap bidan di wilayah tersebut

Pasal 22

Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan wajib melaporkan bidan yang bekerja dan yang berhenti bekerja di fasilitas pelayanan kesehatannya pada tiap triwulan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada organisasi profesi.

 


MENTERI KESENATAN
REPUBLIK INDONESIA

Pasal 23

(1)    Dalam rangka pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, Menteri, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota dapat memberikan tindakan administratif kepada bidan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan penyelenggaraan praktik dalam Peraturan ini.

(2)    Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:

a.teguran lisan;

b.teguran tertulis;

c.pencabutan SIKB/SIPB untuk sementara paling lama 1 (satu) tahun; atau

d.pencabutan SIKB/SIPB selamanya.

Pasal 24

(1)  Pemerintah daerah kabupaten/kota dapat memberikan sanksi berupa rekomendasi pencabutan surat izin/STR kepada kepala dinas kesehatan provinsi/Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) terhadap Bidan yang melakukan praktik tanpa memiliki SIPB atau kerja tanpa memiliki SIKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan ayat (2).

(2)  Pemerintah daerah kabupaten/kota dapat mengenakan sanksi teguran lisan, teguran tertulis sampai dengan pencabutan izin fasilitas pelayanan kesehatan sementara/tetap kepada pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan yang mempekerjakan bidan yang tidak mempunyai SIKB.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 25

(1) Bidan yang telah mempunyai SIPB berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/Menkes/149/1/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan dinyatakan telah memiliki SIPB berdasarkan Peraturan ini sampai dengan masa berlakunya berakhir.

 

MENTERI KESENATAN
REPUBLIK INDONESIA

(2) Bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memperbaharui SIPB apabila Surat Izin Bidan yang bersangkutan telah habis jangka waktunya, berdasarkan Peraturan ini.

Pasal 26

Apabila Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) dan Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP) belum dibentuk dan/atau belum dapat melaksanakan tugasnya maka registrasi bidan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan.

Pasal 27

Bidan yang telah melaksanakan kerja di fasilitas pelayanan kesehatan sebelum ditetapkan Peraturan ini harus memiliki SIKB berdasarkan Peraturan ini paling selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak Peraturan ini ditetapkan.

Pasal 28

Bidan yang berpendidikan di bawah Diploma III (D III) Kebidanan yang menjalankan praktik mandiri harus menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan ini selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak Peraturan ini ditetapkan.

BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 29

Pada saat Peraturan ini mulai berlaku:

  1. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan sepanjang yang berkaitan dengan perizinan dan praktik bidan; dan
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/Menkes/149/1/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan;

dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

 

MENTERI KESDIATAN
REPUBLIK INDONESIA

Pasal 30

Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 4 Oktober 2010

MENTERI KESEHATAN,

ttd

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH

Diundangkan di Jakarta pada tanggal

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,

PATRIALIS AKBAR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR

 

Lampiran

Peraturan Menteri Kesehatan

Nomor : 1464/MENKES/PER/X/2010 Tanggal : 4 Oktober 2010

PERSYARATAN PRAKTIK BIDAN

A. TEMPAT PRAKTIK

1. Tempat untuk praktik bidan mandiri terpisah dari ruangan keluarga terdiri dari :

  1. Ruang Tunggu
  2. Ruang Pemeriksaan
  3. Ruang Persalinan
  4. Ruang Rawat !nap
  5. WC/Kamar mandi
  6. Ruang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

2. Papan Nama

Bidan yang praktik mandiri dan telah mempunyai SIPB wajib memasang papan nama praktik bidan yang memuat : nama, alamat tempat praktik, Nomor SIPB dan waktu praktik. Ukuran 40 cm x 60 cm dengan warna dasar putih dan tulisan hitam.

B. PERALATAN

DAFTAR PERALATAN PRAKTIK BIDAN

No.

Jenis Alat

Jumlah

A.

PERALATAN TIDAK STERIL  

1

Tensimeter

1

2

Stetoskop binoculer

1

3

Stetoskop monoculer

1

4

Timbangan dewasa

1

5

Timbangan bayi

1

6

Pengukur panjang bayi

1

7

Termometer

2

 

No.

Jenis Alat

Jumlah

8

Oksigen dengan regulator

1

9

Ambu bag dengan masker resusitasi (ibu+bayi)

1/1

10

Pengisap lendir

2

11

Lampu/sorot

1

12

Penghitung nadi (jam dengan jarum detik)

1

13

Sterilisator

1

14

Bak instrumen dengan tutup

2

15

Palu Refleks

1

16

Alat pemeriksa Hb (Sahli)

1

17

Set pemeriksaan urine (protein + reduksi)

1

18

Pita pengukur

1

19

Sarung tangan karet untuk mencuci alat

2 pasang

20

Apron

2 pasang

21

Masker 1     dus

22

Pengaman mata

2

23

Sarung kaki plastik

Sesuai kebutuhan

24

Semprit disposable

Sesuai kebutuhan

25

Tempat kotoran/sampah

3

26

Tempat kain kotor

Sesuai kebutuhan

27

Tempat plasenta

Sesuai kebutuhan

28

Pot

Sesuai kebutuhan

29

Piala Ginjal/bengkok besar dan kecil 2/2

30

Sikat, sabun ditempatnya

2

31

Kertas lakmus 1 set

32

Semprit gliserin

1

33

Gunting verband

1

34

Gelas ukur 500 ml

1

35

Spatula lidah logam

1

36

Perlengkapan pakaian bayi

Sesuai kebutuhan

37

Perlengkapan pakaian Ibu

Sesuai kebutuhan

B.

PERALATAN STERIL (DTT)  

1

Klem Pean

2

2

1/2 Klem Kocher

2

3

Korentang

2

4

Gunting tali pusat

2

5

Gunting benang

2

6

Gunting episiotomi

2

7

Kateter karet/metal 2/2

8

Pinset anatomi pendek dan panjang

1/1

 

 

No.

Jenis Alat

Jumlah

9

Tenakulum/kocher tang

2/2

10

Pinset bedah

2

11

Spekulum cocor bebek dan Sims

1/1

12

Mangkok metal kecil

2

13

Pengikat tali pusat

Sesuai kebutuhan

14

Pengisap lendir

1

15

Tampon tang

2

16

Tampon vagina

Sesuai kebutuhan

17

Pemegang jarum

2

18

Jarum kulit dan otot

Sesuai kebutuhan

19

Sarung tangan

Sesuai kebutuhan

20

Benang sutera + catgut

Sesuai kebutuhan

21

Doek steril (kain steril)

6

C.

BAHAN HABIS PAKAI

Sesuai kebutuhan

1

Kapas  

2

Kain Kasa  

3

Plester  

4

Handuk  

5

Pembalut wanita  

D.

PERALATAN PENCEGAHAN INFEKSI  

1

Wadah anti tembus untuk pembuangan tabung  
  suntik dan jarum

1

2

Tempat untuk sampah terkontaminasi basah dan  
  kering dalam tempat terpisah

3

3

Ember untuk menyiapkan larutan klorin

1

4

Ember        plastik     tertutup      untuk           dekontaminasi  
  peralatan

2

5

Ember plastik dan sikat untuk membersihkan dan  
  mencuci peralatan

2

6

DTT set untuk merebus dan atau mengukus

1

7

Tempat        penyimpanan      peralatan      bersih         yang  
  tertutup rapat.

2

E.

FORMULIR YANG DISEDIAKAN

Sesuai kebutuhan

1

Formulir Informed Consent  

2

Formulir ANC  

 

No.

Jenis Alat

Jumlah

3

Formulir Partograf  

4

Formulir persalinan/nifas dan KB  

5

Buku register : ibu, bayi, anak, KB  

6

Formulir Laporan  

7

Formulir rujukan  

8

Formulir surat kelahiran  

9

Formulir surat kematian  

10

Formulir surat keterangan cuti bersalin  

11

Formulir permintaan darah  

12

Buku KIA  

 

MENTERI KESEHATAN,

ttd

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH

 

 

Formulir I

Perihal : Permohonan Surat Izin Kerja Bidan/Surat Izin Praktik Bidan (SIKB/SIPB)

Kepada Yth,

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota……………

Dengan hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini, Nama Lengkap

Alamat

Tempat, tanggal lahir

Jenis kelamin

Tahun Lulusan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan, dengan ini mengajukan permohonan untuk mendapatkan Surat Izin Kerja Bidan/Surat Izin Praktik Bidan (SIKB/SIPB).

Sebagai bahan pertimbangan terlampir:

  1. fotokopi SIB/STR yang masih berlaku dan dilegalisasi;
  2. surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki Surat Izin Praktik;
  3. surat pernyataan memiliki tempat praktik;
  4. pas foto berwarna terbaru ukuran 4 X 6 cm sebanyak 3 (tiga) lembar;
    1. rekomendasi dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau pejabat yang ditunjuk; dan
    2. rekomendasi dari organisasi profesi.

Demikian atas perhatian Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.

Pemohon,

 

 

 

Formulir II

KOP PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA

SURAT IZIN KERJA BIDAN (SIKB) Nomor:

Yang bertanda tangan di bawah ini, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memberikan izin kerja kepada:

Nama

Tempat/tanggal lahir Alamat

Nomor SIB/STR

Untuk bekerja sebagai bidan di … (tempat dan alamat lengkap fasilitas pelayanan kesehatan)

Surat Izin Kerja Bidan (SIKB) ini berlaku sampai dengan tanggal (sesuai pemberlakuan SIB/STR)

  Dikeluarkan di …

Pada tanggal

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

Pas Foto
4X6

Tembusan :

  1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi …;
  2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ….;
  3. Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) daerah …; dan
  4. Pertinggal.

 

 

 

Formulir III

KOP PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA

SURAT IZIN PRAKTIK BIDAN (SIPB) Nomor:

Yang bertanda tangan di bawah ini, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memberikan izin praktik kepada:

Nama

Tempat/tanggal lahir : Alamat

Nomor SIB/STR

Untuk berpraktik sebagai bidan di … (tempat dan alamat lengkap tempat praktik)

Surat Izin Praktik Bidan (SIPB) ini berlaku sampai dengan tanggal (sesuai pemberlakuan SIB/STR)

  Dikeluarkan di …

Pada tanggal

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

Pas Foto
4X6

Tembusan :

  1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi …;
  2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ….;
  3. Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) daerah …; dan
  4. Pertinggal.

10 CARA MENGATASI STRESS

Stress merupakan keadaan di mana kita merasa sangat penat, terbebani, dan perasaan yang tidak karuhan. Stres bisa positif dan bisa negatif. Stres yang berkaitan dengan pekerjaan dapat menyebabkan ketidakpuasan terkait dengan pekerjaan. Ketidakpuasan adalah efek psikologis sederhana tetapi paling nyata dari stres. Namun stres juga muncul dalam beberapa kondisi psikologis lain, misalnya, ketegangan, kecemasan, kejengkelan, kejenuhan, dan sikap yang suka menunda-nunda pekerjaan.

Berikut ada beberapa tips mengatasi stress:

1. Berfikir positif

Pikiran positif adalah pikiran yang dapat membangun dan memperkuat kepribadian atau karakter. Sangat penting untuk berada disekeliling orang-orang yang berfikir positif. Getaran negatif dari teman-teman dan rekan kerja dapat mempengaruhi pikiran negative sehingga sulit bagi anda untuk bersantai. Menurut pascal “pikiran  positif dating dari kepercayaan, pikiran negative dating dari keragu-raguan”.

2. Tetap rileks dan istirahat

Sesibuk apapun anda, saat jam istirahat kerja, gunakan waktu sebaik-baiknya untuk bersantai. Bila mungkin, gunakan waktu istirahat Anda untuk tidur minimal 15 menit. Hal ini dapat membantu tubuh dan pikiran Anda lebih segar.

3. Dengarkan Musik

Musik yang menenangkan dapat memiliki efek relaksasi pada gelisah, tegang pikiran. Hal ini juga dapat menurunkan tekanan darah, memperlambat pernapasan dan detak jantung. Cari jenis musik yang dapat membuat otot-otot yang tegang menjadi relaksasi.

4. Meditasi

Meditasi sangat bagus tidak hanya untuk menghilangkan stres, tetapi juga untuk relaksasi otot. Penelitian telah menunjukkan bahwa meditasi dapat membantu dalam menurunkan tekanan darah.

Cobalah mulai sekarang renungkan untuk memanggil energi positif. Caranya mudah, cukup hanya mengambil nafas panjang dan mengosongkan pikiran Anda. Lakukan meditasi10 menit saja.

5. Olah raga

Olah raga terbukti mampu mengembalikan stamina yang turun serta membuat kita menjadi lebih energik.  Penelitian menunjukkan bahwa 20 menit setiap hari adalah semua yang diperlukan untuk pengalaman manfaat. Jadi mendapatkan beberapa memompa darah dan melepaskan beberapa endorfin. Ada pepatah mengatakan bahwa dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang yang kuat.

6. Refreshing

Refreshing ke tempat-tempat hiburan pada akhir pekan. Rekreasi dapat membuat pikiran kita menjadi lebih rileks. Otot-otot yang tadinya kaku bisa lemas dan urat syaraf yang tadinya tegang juga bisa lemas dengan rekreasi.

7. Tetap bersyukur

Bersyukur merupakan cara yang paling ampuh dalam mengatasi stress, bagaimana tidak. karena pada umumnya orang mengalami stress karena tidak kuat dengan apa yang telah terjadi atau keadaan yang menimpanya. Dengan bersyukur kita akan senantiasa ingat bahwa segala sesuatu yang kita peroleh merupakan pemberian dari ALLAH SWT dan seyogyanya kita terima dan kita kerjakan dengan rasa ikhlas.

8. Gunakan aromatherapy

Aroma tertentu dapat memiliki efek, menenangkan relaksasi pada keadaan pikiran Anda. Anda dapat mencoba menempatkan lilin lavender, lemon atau chamomile beraroma di sekitar rumah atau kantor Anda. Anda juga dapat menggunakan salah satu dari aroma di kamar mandi Anda.

9. Minum teh hijau

Teh hijau mengandung asam amino, Theanine, yang membantu dalam produksi dan pelepasan bahan kimia yang disebut Dopamin. Kedua Dopamin dan Theanine merangsang perasaan kesejahteraan di dalam tubuh. Namun, kafein dapat memperburuk respon stres, jadi hindari minuman berkafein.

10. Pijat

Pijat seluruh tubuh membantu untuk melepaskan ketegangan dan rasa sakit dari stres otot tegang. Jika Anda tidak pernah mengalami pijat, anda akan kehilangan salah satu hal paling indah dalam hidup.

Mulailah bekerja dengan santai tapi pasti dan bertanggungjawab, kurangi stress kerja mulai saat ini dan anggaplah bahwa kerja itu sama dengan rekreasi, SEMANGAT!

Kanker Payudara

Fakta dan Angka
Menurut WHO 8-9% wanita akan mengalami kanker payudara. Ini menjadikan kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak ditemui pada wanita. Setiap tahun lebih dari 250,000 kasus baru kanker payudara terdiagnosa di Eropa dan kurang lebih 175,000 di Amerika Serikat. Masih menurut WHO, tahun 2000 diperkirakan 1,2 juta wanita terdiagnosis kanker payudara dan lebih dari 700,000 meninggal karenanya. Belum ada data statistik yang akurat di Indonesia, namun data yang terkumpul dari rumah sakit menunjukkan bahwa kanker payudara menduduki ranking pertama diantara kanker lainnya pada wanita.

Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian pada wanita akibat kanker. Setiap tahunnya, di Amerika Serikat 44,000 pasien meninggal karena penyakit ini sedangkan di Eropa lebih dari 165,000. Setelah menjalani perawatan, sekitar 50% pasien mengalami kanker payudara stadium akhir dan hanya bertahan hidup 18 – 30 bulan.

Penyebab dan Faktor Resiko
Penyebab pasti kanker payudara tidak diketahui. Meskipun demikian, riset
mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko pada individu
tertentu, yang meliputi:

  • Keluarga yang memiliki riwayat penyakit serupa
  • Usia yang makin bertambah
  • Tidak memiliki anak
  • Kehamilan pertama pada usia di atas 30 tahun
  • Periode menstruasi yang lebih lama (menstruasi pertama lebih awal atau menopause lebih lambat)
  • Faktor hormonal (baik estrogen maupun androgen).

Dari faktor risiko tersebut di atas, riwayat keluarga serta usia menjadi faktor terpenting. Riwayat keluarga yang pernah mengalami kanker payudara meningkatkan resiko berkembangnya penyakit ini. Para peneliti juga menemukan bahwa kerusakan dua gen yaitu BRCA1 dan BRCA2 dapat meningkatkan risiko wanita terkena kanker sampai 85%. Hal yang menarik, faktor genetik hanya berdampak 5-10% dari terjadinya kanker payudara dan ini menunjukkan bahwa faktor risiko lainnya memainkan peranan penting.

Pentingnya faktor usia sebagai faktor risiko diperkuat oleh data bahwa 78% kanker payudara terjadi pada pasien yang berusia lebih dari 50 tahun dan hanya 6% pada pasien yang kurang dari 40 tahun. Rata-rata usia pada saat ditemukannya kanker adalah 64 tahun.

Studi juga mengevaluasi peranan faktor gaya hidup dalam perkembangan kanker payudara yang meliputi pestisida, konsumsi alkohol, kegemukan, asupan lemak serta kurangnya olah fisik.

Diagnosis dan Skrining
Sejumlah studi memperlihatkan bahwa deteksi kanker payudara dan serta terapi dini dapat meningkatkan harapan hidup dan memberikan pilihan terapi lebih banyak pada pasien.

Diperkirakan 95% wanita yang terdiagnosis pada tahap awal kanker payudara dapat bertahan hidup lebih dari lima tahun setelah diagnosis sehingga banyak dokter yang merekomendasikan agar para wanita menjalani ‘sadari’ (periksa payudara sendiri–saat menstruasi) di rumah secara rutin dan menyarankan dilakukannya pemeriksaan rutin tahunan untuk mendeteksi benjolan pada payudara. Pada umumnya, kanker payudara dideteksi oleh penderita sendiri dan biasanya berupa benjolan yang keras dan kecil. Pada banyak kasus benjolan ini tidak sakit, tapi beberapa wanita mengalami kanker yang menimbulkan rasa sakit.

Selain tes fisik, mamografi tahunan atau dua kali setahun dan USG khusus payudara disarankan untuk mendeteksi adanya kelainan pada wanita berusia lanjut dan wanita berisiko tinggi kanker payudara, sebelum terjadi kanker. Jika benjolan bisa teraba atau kelainan terdeteksi saat mamografi, biopsi perlu dilakukan untuk mendapatkan contoh jaringan guna dilakukan tes di bawah mikroskop dan meneliti kemungkinan adanya tumor. Jika terdiagnosis kanker, maka perlu dilakukan serangkaian tes seperti status reseptor hormon pada jaringan yang terkena.

Jenis tes yang baru menyertakan juga tes gen HER2 (human epidermal growth factor receptor-2) untuk tumor. Gen ini berhubungan dengan pertumbuhan sel kanker yang agresif. Pasien dikatakan HER2-positif jika pada tumor ditemukan HER2 dalam jumlah besar. Kanker dengan HER2-positif dikenal sebagai bentuk agresif dari kanker payudara dan memiliki perkiraan perjalanan penyakit yang lebih buruk daripada pasien dengan HER2-negatif. Diperkirakan satu dari empat sampai lima pasien dengan kanker payudara tahap akhir memiliki HER2-positif.

Penatalaksanaan Kanker Payudara
Penatalaksanaan kanker payudara dilakukan dengan serangkaian pengobatan meliputi: pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, terapi radiasi dan yang terbaru adalah terapi imunologi (antibodi). Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau membatasi perkembangan penyakit serta menghilangkan gejala-gejalanya. Keberagaman jenis terapi ini mengharuskan terapi dilakukan secara individual.

Pembedahan
Tumor primer biasanya dihilangkan dengan pembedahan. Prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien kanker payudara tergantung pada tahapan penyakit, jenis tumor, umur dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Ahli bedah dapat
mengangkat tumor (lumpectomy), mengangkat sebagian payudara yang mengandung sel kanker atau pengangkatan seluruh payudara (mastectomy). Untuk meningkatkan harapan hidup, pembedahan biasanya diikuti dengan terapi tambahan seperti radiasi, hormon atau kemoterapi.

Terapi Radiasi
Terapi radiasi dilakukan dengan sinar-X dengan intensitas tinggi untuk membunuh sel kanker yang tidak terangkat saat pembedahan.

Terapi Hormon
Terapi hormonal dapat menghambat pertumbuhan tumor yang peka hormon dan dapat dipakai sebagai terapi pendamping setelah pembedahan atau pada stadium akhir.

Kemoterapi
Obat kemoterapi digunakan baik pada tahap awal ataupun tahap lanjut penyakit (tidak dapat lagi dilakukan pembedahan). Obat kemoterapi bisa digunakan secara tunggal atau dikombinasikan. Salah satu diantaranya adalah Capecitabine dari Roche, obat anti kanker oral yang diaktivasi oleh enzim yang ada pada sel kanker, sehingga hanya menyerang sel kanker saja.

Terapi Imunologik
Sekitar 15-25% tumor payudara menunjukkan adanya protein pemicu pertumbuhan atau HER2 secara berlebihan dan untuk pasien seperti ini, trastuzumab, antibodi yang secara khusus dirancang untuk menyerang HER2 dan menghambat pertumbuhan tumor, bisa menjadi pilihan terapi. Pasien sebaiknya juga menjalani tes HER2 untuk menentukan kelayakan terapi dengan trastuzumab.

Mengobati Pasien Pada Tahap Akhir Penyakit
Banyak obat anti kanker yang telah diteliti untuk membantu 50% pasien yang
mengalami kanker tahap akhir dengan tujuan memperbaiki harapan hidup. Meskipun demikian, hanya sedikit yang terbukti mampu memperpanjang harapan hidup pada pasien, diantaranya adalah kombinasi trastuzumab dengan capecitabine. Fokus terapi pada kanker tahap akhir bersifat paliatif (mengurangi rasa sakit). Dokter berupaya untuk memperpanjang serta memperbaiki kualitas hidup pasien melalui terapi
hormon, terapi radiasi dan kemoterapi. Pada pasien kanker payudara dengan HER2-positif, trastuzumab memberikan harapan untuk pengobatan kanker payudara yang dipicu oleh HER2.

Mengenal dan Memahami kanker

Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri. Sel-sel tersebut lalu menyusup ke jaringan sekitarnya dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, serta menyerang organ-organ penting dan saraf tulang belakang.

Dalam keadaan normal, sel hanya membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang mati dan rusak. Sebaliknya, sel kanker akan terus membelah meskipun tubuh tidak memerlukannya. Akibatnya, terjadi penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal sehingga mengganggu organ yang ditempatinya.

Kanker dapat terjadi di berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati. Namun, bila terjadi di dalam tubuh, kanker akan sulit diketahui dan kadang-kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah mencapai stadium lanjut sehingga sulit diobati.

Perbedaan antara tumor dan kanker adalah sebagai berikut.  Ada dua macam tumor, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak hanya tumbuh dan membesar, tidak terlalu berbahaya, serta tidak menyebar ke luar jaringan. Sedangkan, tumor ganas adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali serta merusak jaringan lainnya. Dengan kata lain, kanker adalah semacam tumor ganas.

Kanker dapat tumbuh di sepanjang saluran pencernaan, dari mulut hingga anus. Semua kanker yang tumbuh di saluran cerna termasuk kanker padat sehingga operasi merupakan pilihan utama.

Kanker bukanlah suatu penyakit yang ringan. Langkah awal dalam pengobatan kanker adalah mendeteksi dengan benar bahwa gejala yang muncul pada tubuh penderita adalah benar-benar sel kanker ganas. Deteksi ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan biopsy sehingga langkah pengobatan bias dilakukan secara cepat dan tepat.

Junlah penderita kanker di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi peningkatan dari tahun ke tahun dapat dibuktikan sebagai salah satu penyebab kemmatian. Hanya beberapa kanker yang dapat diobati saat masih stadium dini. Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh jenis kanker, stadium kanker, keadaan umum penderita, dan usaha penderita untuk sembuh.

Kanker juga bias diatasi dengan terapi pengobatan konvensional. Sayangnya, cara pengobatan ini seringkali tidak bias mengatasi kanker secara total. Di disinilah peran tanaman obat atau herbal.

Herbal berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh penderita kanker dan melokalisasi sel-sel kanker sehingga sel-sel kanker tidak mudah menyebar dan lebih mudah diangkat. Herbal juga tidak mudah menyebar dan lebih mudah diangkat. Herbal juga tidak bersifat toksik sehingga lebih aman untuk tubuh penderita. Misalnya, tanaman obat dari ekstrak keladi tikus Typhonium Flagelliforme. Dalam penggunaannya, tanaman obat ini bias dipakai bersamaan dengan pengobatan konvensional pembedahan, kemoterapi, radioterapi, dan hormonterapi atau setelah pengobatan konvensional selesai dilakukan. Obat dari ekstrak keladi tikus dapat membantu mengurangi efek pengobatan secara konvensional.

Pada penderita kanker sering mengalami kaheksi, yaitu suatu sindrom yang ditandai dengan gejala klinis berupa anoreksia, perubahan ambang rasa kecap, penurunan berat badan, anemia, gangguan metabolism karbohidrat, protein, dan lemak. Kaheksi merupakan akibat dari kanker, baik local maupun sistematis, juga merupakan komplikasi dari obat anti kanker.

Mari kita lihat salah satu gejala penyebab kaheksi, yaitu anoreksia atau hilangnya nafsu makan. Anoreksia muncul karena sel kanker menimbulkan zat metabolit, rasa cepat kenyang, perubahan rasa kecap, dan stes psikologis.

Penurunan nafsu makan pula yang menjadi factor utama terjadinya penurunan berat badan. Namun demikian, juga bias mengalami penurunan berat badan atau hipermetabolisme.

Di sisi lain, pengobatan anti-kanker (kemoterapi, radiasi, dan pembedahan) bisa mempengaruhi status nutrisi penderita merasa lebih baik. Oleh karena itu, dukungan nutrisi menjadi bagian penting dalam menunjang terapi penderita kanker.

Di bawah ini adalah beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh pengobatan anti-kanker terhadap status nutrisi penderita.

  1. Kemoterapi. Kemoterapi bisa menimbulkan malnutrisi dengan berbagai sebab, misalnya mual, sariawan, gangguan saluran pencernaan, dan penurunan nafsu makan. Malnutrisi akan mempengaruhi status nutrisi dan hasil dari pengobatan kemoterapi. Efek sampingnya selalu berhubungan dengan dosis, waktu terapi, jenis obat, dan respons individual.
  2. Radioterapi. Radioterapi bisa menimbulkan malnutrisi pada penderita kanker. Beratnya malnutrisi yang terjadi ditentukan oleh tempat dilakukannya radiasi. Beberapa penyebab perubahan status nutrisi akibat radiasi antara lain radiasi di kepala yang menyebabkan mual dan muntah, radiasi di kepala atau leher yang menyebabkan sulit menelan dan oseofagitis, serta radiasi abdomen atau pelvis yang menyebabkan diare, gastritis, mual, dan muntah.
  3. Pembedahan. Pembedahan tergantung dari operas yang dilakukan terhadap penderita kanker. Pembedahan merupakan terapi primer untuk penderita dengan kanker pada saluran pencernaan yang mungkin dikombinasikan dengan kemoterapi atau radiasi. Tumor yang berada di saluran pencernaan biasanya akan bermasalah pada masalah nutrisi. Beberapa contoh akibat pembedahan pada saluran cerna adalah operasi gaster yang menyebabkan penurunan absorbs vitamin B12, operasi pancreas yang menyebabkan gangguan metabolism glukosa, dan operasi kolon yang menyebabkan kehilangan air dan elektrolit.

Oleh karena itulah, terapi nutrisi menjadi penting bagi penderita kanker. Tujuannya adalah untuk mempertahankan status nutrisi, mengurangi gejala sindroma kaheksi, mencegah komplikasi, dan memenuhi kecukupan mironutrien.

Kualifikasi Pendidikan Bidan

1. Lulusan pendidikan bidan sebelum tahun 2000 dan Diploma III kebidanan, merupakan bidan pelaksana, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan praktiknya baik di institusi pelayanan maupun praktik perorangan.

2. Lulusan pendidikan bidan setingkat Diploma IV / S1 merupakan bidan professional, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan praktiknya baik di institusi pelayanan maupun praktik perorangan. Mereka dapat berperan sebagai pemberi layanan, pengelola, dan pendidik.

3. Lulusan pendidikan bidan S2 dan S3, merupakan bodan professional, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan praktiknya baik di institusi pelayanan maupun praktik perorangan. Mereka dapat berperan sebagai pemberi layanan, pengelola, pendidik, peneliti, pengembangan dan konsultan dalam pendidikan bidan mauppun system/ketata-laksanaan pelayanan kesehatan secara universal.

Ruang Lingkup Pelayanan Kebidanan

Pelayanan kebidanan berfokus pada upaya pencegahan, promosi kesehatan, pertolongan persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, melaksanakan tindakan asuhan sesuai dengan kewenangan atau bantuan lain jika diperlukan, serta melaksanakan tindakan kegawat daruratan.

Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetappi kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

Bidan dapat praktik di berbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, Rumah Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.

Falsafah Kebidanan

Dalam menjalankan perannya bidan memililiki keyakinan yang dijadikan panduan dalam memberikan asuhan. Keyakinan tersebut meliputi:

1. Keyakinan tentang kehamilan dan persalinan. Hamil dan bersalin merupakan suatu proses alamiah dan bukan penyakit.

2. Keyakinan tentang perempuan. Setiap perempuan adalah pribadi yang unik mempunyai hak, kebutuhan, keinginan masing-masing oleh sebab itu perampuan harus berpartisipasi aktif dalam setiap asuhan yang diterimanya.

3. Keyakinan fungsi profesi dan manfaatnya. Fungsi utama profesi bidan adalah mengupayakan kesejahteraan ibu dan bayinya, proses fisiologis untuk dihargai, didukung dan dipertahankan. Bila timbul penyulit dapat menggunakan tekhnologi tepat guna dan rujukan yang efektif, untuk memastikan kesejahteraan perempuan dan janin/bayinya.

4. Keyakinan tentang pemberdayaan perempuan dan membuat keputusan. Perempuan harus diberdayakan untuk mengambil keputusan tentang kesehatan diri dan keluarganya melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dan konseling. Pengammbilan keputusan merupakan tanggung jawab bersama antara perempuan, keluarga dan pemberi asuhan.

5. Keyakinan tentang tujuan asuhan. Tujuan utama asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi (mengurangi kesakitan dan kematian). Asuhan kebidanan berfokus pada : Pencegahan, promosi kesehatan yang bersifat holistik, diberikan dengan cara yang kreatif dan fleksibel, suportif, peduli; bimbingan, monitor dan pendidikan berpusat pada perempuan; asuhan berkesinambungan, sesuai keinginan dan tidak otoriter serta menghormati pilihan perempuan.

6. Keyakinan tentang kolaborasi dan kemitraan. Praktik kebidanan dilakukan dengan menempati perempuan sebagai satuu kesatuan fisik, psikis, emosional, sosial, budaya, spiritual serta pengalaman reproduksinya. Bidan memiliki otonomi penuh dalam praktiknya yang berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.

7. Sebagai profesi bidan mempunyai pandangan hidup pancasila. Seseorang bidan menganut filosofis yang mempunyai keyakinan di dalam dirinya bahwa semua manusia adalah mahluk bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual yang unik merupakan satu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dan tidak ada individu yang sama.

8. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan dan perbedaan kebudayaan. Setiap individu berhak menentukan nasib sendiri dan mendapatkan informasi yang cukup dan untuk berperan disegala aspek pemeliharaan kesehatannya.

9. Setiap individu berhak untuk dilahirkan  secara sehat. Untuk itu maka setiap wanita usia subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapat pelayanan yang berkualitas.

10. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga. yang membutuhkan persiapan  sampai anak menginjak masa-masa remaja.

11. Keluarga-keluarga yang berada di suatu wilayah/daerah membentuk masyarakat kumpulan dan masyarakat indonesia terhimpun di dalam satu kesatuan bangsa indonesia. Manusia terbentuk karena adanya interaksi antara manusia dan budaya dalam lingkungan yang bersifat dinamis mempunyai tujuan dan nilai-nilai yang terorganisir.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.